top of page
  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram

Gandrung Marsan: Membingkai Keindahan Budaya Banyuwangi





( source :https://jatim.tribunnews.com/2018/08/19/gandrung-marsan-banyuwangi-tampil-memukau-di-opening-ceremony-asian-games?page=1 )


Banyuwangi, sebuah kabupaten yang terletak di ujung timur Jawa, memiliki kekayaan budaya yang tak ternilai harganya. Bahkan banyak wisatawan yang mengenal Banyuwangi dengan sebutan kota Gandrung. Kini tarian Gandrung yang dinikmati oleh masyarakat merupakan bentuk seni yang telah dikenal sejak era penggundulan Hutan Tirtagindo atau Tirta Arum sebagai lokasi ibu kota Blambangan pada masa lalu. Yang mana pada era itu warga setempat mengenalnya dengan sebutan Gandrung Marsan. Tarian ini bukan hanya sekadar serangkaian gerakan indah, tetapi juga mencerminkan sejarah panjang dan kekayaan budaya masyarakat Banyuwangi. Asal usul gandrung Marsan dapat ditelusuri kembali ke zaman kerajaan-kerajaan kuno di Jawa Timur. Konon, seni ini muncul sebagai bentuk ungkapan dari keinginan masyarakat untuk melawan para penjajah lewat syair lagu yang dibawakan oleh penari.



Pada masa itu, Hutan Tirta Arum menjadi pusat pemerintahan Blambangan, menggantikan Ulu Pangpang sebagai ibu kota sebelumnya. Berdasarkan sejumlah sumber literatur, perpindahan ibu kota ini diawali oleh Bupati pertama Banyuwangi, yaitu Mas Alit, yang memulai tugasnya pada tanggal 2 Februari 1774. Periode ini menjadi tonggak awal munculnya Seni Tari Gandrung. Seiring berjalannya waktu, perkembangan Tari Gandrung terus berlanjut. Pada tahun 1890, muncul sebuah seni pertunjukan yang dipersembahkan oleh sekelompok anak laki-laki berusia 7 hingga 14 tahun. Tarian Gandrung pun menjadi sebuah pertunjukan yang berpindah dari satu desa ke desa lain. Terdapatnya salah satu penari yang gigih menjalani seni tersebut hingga mencapai usia 40 tahun yang mana masyarakat menyebutnya sebagai Marsan. Marsan menjadi tokoh yang sangat dihormati, terutama karena kepiawaian dalam menampilkan peran sebagai perempuan dalam pertunjukan tari.


Gandrung Marsan memiliki ikatan yang kuat dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi. Pada masa itu, Gandrung Lanang berkembang menjadi sebuah pertunjukan tari jalanan yang terkesehan dengan kesederhanaannya. Ditambah lagi penggunaan alat musik pun bersifat sederhana, terbatas pada kendang dan rebana. Marsan, sebagai sosok utama sorotan dalam Gandrung Lanang, menjadi tokoh yang mempunyai ketenaran. Oleh karena itu, setiap kali ada pagelaran Gandrung Lanang, masyarakat secara umum mengenalnya dengan istilah Gandrung Marsan.

Meskipun begitu Gandrung Marsan tidak hanya menjadi sebuah tarian hiburan, tetapi juga penuh dengan makna simbolis. Gerakan-gerakan dan nyanyian syair yang dilakukan oleh para penari mencerminkan pesan kepada masyarakat untuk berani mengambil strategi dalam melawan para penjajah dan memperjuangkan kemerdekaan. Setiap gerakan dan syair memiliki arti mendalam yang terkait dengan siklus kehidupan masyarakat Banyuwangi pada kala itu. Tentunya selain gerakan dan syair, busana yang digunakan oleh para penari Gandrung Marsan juga memiliki nilai simbolis yang tinggi. Busana yang berwarna-warni dan dihiasi dengan motif-motif tradisional menggambarkan kekayaan seni dan budaya lokal. Setiap warna dan motif pada busana memiliki makna tertentu, yang sering kali terkait dengan mitos dan legenda setempat.

Namun saat ini seiring dengan perkembangan waktu, tari gandrung dikenal sebagai pertunjukan yang dipersembahkan oleh penari perempuan, hal tersebut terjadi karena adanya pergeseran dari penari laki-laki menjadi penari perempuan ini diyakini terkait dengan kisah seorang gadis kecil bernama Semi. Pada kala itu Semi yang masih berusia sekitar 10 tahun menderita penyakit yang tak dapat disembuhkan. Ibunya, Mak Midhah, kemudian berjanji bahwa jika Semi sembuh, ia akan diangkat menjadi Seblang atau penari. Ternyata, beberapa waktu setelahnya, Semi pulih dari penyakitnya. Mak Midhah, memenuhi janjinya, mengangkat Semi sebagai penari. Semi kemudian menjadi perintis penari Gandrung wanita, dan jejaknya diikuti oleh penari lainnya yang menggunakan nama panggung sebagai seorang Gandrung.


● Sumber

  1. Babad Id. (2023). Mengenal Gandrung Marsan, Seni Pejuang dari Bumi Blambangan. https://www.babad.id/budaya/pr-3643949572/mengenal-gandrung-marsan-seni-pejuang-dari-bumi-blambangan

  2. Fanani, A. (2023). Tari Gandrung dan Sejarahnya Jadi Sarana Intelijen Lawan Penjajahan Belanda. https://www.detik.com/jatim/budaya/d-6523821/tari-gandrung-dan-sejarahnya-jadi-sarana-intelijen-lawan-penjajahan-belanda/3

  3. Roro. (2019). Tari Gandrung Marsan. https://budaya-indonesia.org/Tari-Gandrung-Marsan

  4. Tour Banyuwangi. (2018). Sejarah Gandrung Banyuwangi – Dari Marsan Ke Semi. https://tourbanyuwangi.com/sejarah-gandrung-marsan-tari-gandrung-banyuwangi-sejarah-gandrung-banyuwangi/


 
 
 

Recent Posts

See All

Comments


© 2035 by Site Name. Powered and secured by Wix

bottom of page